Sogok Dia dengan Tempe

Percaya atau nggak, orang-orang di Indonesia itu umumnya luluh kalau sudah dikasih makanan. Apalagi, dikasih tempe.
20161013-sogokdiadengantempe-insinyurx-aa

Pacar kamu marah? Ingin mengambil hati gebetan? Atau, kamu lagi mau bermanis ria sama orang tua supaya bisa keluar malam? Sogok dia dengan tempe.

Tentu saja, kita tidak bicara tempe yang dijual di abang-abang itu, yang minyaknya sudah dipakai dari seminggu kemarin, atau kadang dikasih plastik (eughh…). Yang kita bicarakan di sini adalah tempe bikinan sendiri, do-it-yourself (DIY) gitu, deh. Dan yang jelas, tempe sogokan kamu mesti enak dan sehat. Jadi, silakan coba eksperimen ala Wida Winarno dari Indonesian Tempe Movement ini.

Hal pertama yang perlu kamu tahu tentang pembuatan tempe adalah cara kerjanya. Prinsipnya, membuat tempe berarti membiarkan kedelai mengalami proses pembusukan secara alami. Dan soal kelezatan, itu tergantung dari pemilahan kapang rhizopus sp, yang kemudian tumbuh menjadi hypha berwarna putih dan lebat. Hypha itulah yang akan mengikat kacang kedelai menjadi satu sehingga terbentuk tempe yang kompak dan padat.

Agar rhizopus tumbuh dengan lebat dan optimal, maka kamu perlu menciptakan kondisi yang kondusif, mulai dari menjaga inoculum (mikroba) yang baik, menjaga suhu, kelembaban, zat asam, nutrisi serta meminimalisasi pertumbuhan bakteri alam yang menghambat pertumbuhan rhizopus. Paham, nggak?

Kalau saat ini kamu menggeleng-geleng karena bahasa saya kelewat tinggi dan mengawang-awang, ikuti saja langkah-langkah pembuatan tempe berikut.

  1. Bersihkan kedelai dari kotoran
  2. Rendam biji-biji kedelai semalaman dengan air
  3. Terkadang, kamu perlu menambahkan sedikit cuka untuk menurunkan pH. Ini perlu untuk menghambat pertumbuhan bakteri dari lingkungan. pH yang disukai rhizopus adalah 5,5–7,0, namun umumnya sekitar 6,8.
  4. Lepaskan kulit ari dari biji
  5. Cuci kotiledon
  6. Rebus atau kukus kotiledon
  7. Tiriskan kotiledon untuk menurunkan suhunya
  8. Lakukan inokulasi rhizopus
  9. Bungkus, gan!
  10. Fermentasikan pada suhu ruang 28-33 derajat celcius

Jadi bagaimana? Mudah, kan? Nah, agar bujuk rayumu semakin terlihat memukau di mata orang, ketika menyajikan tempe DIY ini, kamu bisa menceritakan lebih jauh tentang sejarahnya. Saya yakin, tak banyak yang tahu bahwa tempe sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Ia tertulis dalam Serat Centini yang ditulis oleh Pakubuwono IV pada sekitar abad ke-16. Dan karena rasanya yang khas dan cara pembuatan yang mudah, pembuatan tempe jadi tradisi yang turun-temurun, melintas dari generasi ke generasi.

Just so you know, Bro, Sis, berbagai daerah di Indonesia memproduksi tempe dengan caranya masing-masing. Aliran pembuatan tempe yang cukup beken adalah tempe Yogyakarta, Malang, Pekalongan, Purwokerto, dan Bandung. Nah, siapa tahu kamu bisa bikin aliranmu sendiri.

Akhir kata, selamat bereksperimen! Dan ingatlah, ketika seseorang mencoba mempersulit hidup kamu, sogok dia dengan tempe!

 

 

Rubrik
Experimental

Artikel sejenis