Kata Sains, Ngupil Itu Wajib, Lho…

Mengaduk-aduk isi lubang hidung memang terdengar menjijikkan dan tidak higienis. Tetapi siapa bisa menyangkal kenikmatannya?
07112016-ngupil-insinyurx-febyelsadiora

Siapa, sih, yang tidak pernah mengupil? Siapa pula yang berani membantah kenikmatannya? Plus, apa jadinya dunia tanpa ngupil? Apalagi, kata sains, ngupil itu wajib.

Meski setiap orang pernah mengupil, tak banyak yang sudi menempatkan aktivitas mengupil dalam kolom hobi di profil Facebook mereka. Seolah-olah, mengupil adalah hal jahat, memalukan, tidak sopan, dan kalau ketahuan bikin malu tujuh turunan. Mengupil jadi seperti berjudi: dilakukan diam-diam dan sendiri-sendiri, dalam bayang-bayang. Tapi sesungguhnya mengupil adalah hal wajar yang bisa dijelaskan secara ilmiah.

Apa, sih, mengupil itu? Menurut pengertian medis, mengupil merupakan satu kegiatan memasukkan jari tangan ke dalam lubang hidung, dalam upaya mengikis kotoran yang berada di dalamnya.

Kajian ilmiah tentang mengapa manusia suka mengupil sudah dimulai sejak 1995. Dua peneliti kesehatan, Thompson dan Jefferson, berinisiatif melakukan survey mengenai kegiatan mengupil – yang memiliki nama ilmiah rhinotillexomania. Keduanya lantas mengirimkan surat kepada 1.000 orang dewasa di Dane Country, Wisconsin, Amerika Serikat.

Dari 254 orang yang menjawab survey tersebut, sekitar 91% mengatakan sering mengupil dan 1.2% mengakui bahwa mereka melakukannya paling tidak satu jam sekali. Yang mengejutkan adalah, beberapa orang mengupil dengan begitu bersemangat, sehingga menyentuh bagian nasal septum, yaitu selaput tipis di hidung yang memisahkan lubang hidung kanan dan kiri. Orang ini pasti merem-melek keenakan.

Kegiatan mengupil juga memikat Chittaranjan Andrade dan BS Srihari, peneliti dari National Institute of Mental Health and Neurosciences di Bangalore, India. Keduanya berpendapat bahwa survey yang dilakukan di Wisconsin bisa menjadi bias, karena sebenarnya perilaku mengupil lebih banyak dilakukan para remaja dan anak-anak. Mereka pun membuat survey tandingan dengan target anak-anak sekolah di Bangalore, dengan latar belakang ekonomi yang beragam untuk mendapatkan sampel yang representatif.

Temuannya cukup mencerahkan. Dari 200 anak yang berpartisipasi, hampir semua mengaku mengupil empat kali dalam sehari. Selain itu, ada 7,6% siswa yang mengatakan telah menempelkan jari mereka ke hidung lebih dari 20 kali setiap hari (20% melakukannya untuk meringankan gatal atau membersihkan hidung). Plus, sebanyak 12% partisipan bilang kalau mengupil itu enak dan menenangkan.

Hasil dari penelitian itu lantas diterbitkan dalam Journal of Clinical Psychiatry (vol 62, p 426, Juni 2001). Dalam jurnal itu muncul kesimpulan: Mengupil adalah hal umum yang dilakukan para remaja, dan seringkali terkait kebiasaan lain, yaitu ketika sedang pilek, infeksi sinus dan sedang mengalami alergi yang bisa menyebabkan sekresi hidung atau peningkatan lendir.

Jadi, kamu nggak usah risih kalau melihat teman atau pacarmu ngupil. Kata sains, ngupil itu wajib. Itu hal yang wajar dan mesti dilakukan secara rutin, karena hidung manusia selalu memproduksi kotoran setiap hari. Kotoran itu sendiri bisa berupa ingus atau dari mikro-organisme dan debu yang bertebaran di udara, yang kemudian masuk ke hidung dan tersangkut pada bulu hidung. Ini pula yang bikin upilmu berwarna gelap.

Sebagian dari kamu mungkin penasaran tentang ukuran upil. Mengapa ada yang besar dan ada pula yang kecil. Nah, sebetulnya, besar-kecilnya upil juga dipengaruhi tinggi-rendahnya kadar polusi. Semakin kotor, produksi upilmu bisa makin besar dan hitam.

Kata sains, ngupil itu wajib. Tetapi meski ia tak termasuk aktivitas berbahaya, dalam beberapa kasus mengupil dapat memicu masalah kesehatan yang lebih serius. Misalnya seperti di bawah ini:

#1 Terjangkit virus. Ini terjadi karena masuknya jari-jari yang sudah terkontaminasi virus. Satu yang mesti kamu ingat adalah tangan kita tidak selalu dalam keadaan bersih dan higienis.

#2 Mimisan. Kondisi ini bisa terjadi apabila kamu lagi flu sehingga hidung mengeluarkan lendir berlebihan. Karena merasa tidak nyaman, tanpa sadar kita akan membersihkan kotoran dalam hidung berulangkali. Kegiatan ini bisa mengakibatkan lapisan dalam hidung terluka sehingga memicu timbulnya mimisan.

#3 Merontokan bulu hidung. Sama saja dengan rambut kepala yang akan rontok jika digaruk terus-menerus, rambut hidung juga demikian. Waspadalah! Bulu hidung sangat penting dalam penyaringan debu dan polutan udara.

#4 Jalur ke otak. Di dalam hidung kita terdapat tulang yang disebut ethmoid, yang merupakan tulang pemisah antara hidung dan otak. Hal fatal bisa terjadi jika, saat asyik mengupil, tulang ini terluka. Cairan otak bisa bocor dan menyebabkan meningitis.

Rubrik
Aha!

Artikel sejenis